2019-02-10

Cerita Rakyat Indonesia: Tangkuban Perahu

Tangkuban Perahu

kisah sangkuriang

This article in English

Gunung Tangkuban Perahu adalah gunung berapi yang terletak 30 km di sebelah utara kota Bandung, Jawa Barat. Gunung ini telah meletus sebanyak 16 kali sejak 1826, dan yang terakhir pada tahun 2013. Gunung ini adalah tempat wisata populer di mana para wisatawan dapat naik ke tepi kawah untuk melihat mata air panas. Tangkuban Perahu adalah sisa-sisa Gunung Sunda kuno. Tangkuban Perahu, dalam bahasa Sunda, berarti "perahu terbalik". Ini merujuk pada cerita rakyat Jawa Barat yang terkenal: Sangkuriang. Ini ceritanya.

Satu waktu, sepasang dewa dewi berbuat dosa besar. Batari Sunan Ambu, ratu surga dalam mitos Sunda, memberi hukuman dan menjadikan mereka sebagai hewan di bumi. Sang dewa menjadi anjing bernama Tumang, sang dewi menjadi babi hutan bernama Celeng Wayungyang. Suatu hari, seorang raja pergi berburu ke hutan, tapi tersesat dan terpisah dari pengawalnya. Raja membuang air kecil di semak-semak yang jatuh terkumpul di tempurung kelapa. Babi hutan Celeng Wayungyang yang kebetulan ada di situ, meminum air seni raja karena kehausan.

Ternyata air seni itu mengandung sperma. Celeng Wayungyang, yang seorang dewi, langsung hamil dan melahirkan seorang anak hanya dalam beberapa jam saja. Raja yang masih ada di hutan itu mendengar tangisan bayi yang ditemukannya di semak-semak. Dia membawa dan membesarkannya di istana seperti putrinya sendiri, tanpa tahu bahwa bayi itu sebenarnya putrinya sendiri. Bayi itu tumbuh menjadi gadis cantik bernama Dayang Sumbi. Banyak bangsawan dan pangeran melamarnya, tapi tak satupun yang menarik hatinya. Kesukaan Dayang Sumbi adalah menenun dan menghabiskan waktunya menciptakan kain indah. Dia biasa lakukan itu di paviliun istana di taman.

Satu malam, saat dia sedang menenun, satu gulungan benangnya jatuh keluar tanah istana. Karena dia seorang putri raja, dia dilarang meninggalkan istana dengan berjalan kaki sendiri. Tapi tak ada seorangpun di dekatnya saat itu dan dia sangat memerlukan gulungan benangnya. Dalam kegelisahannya, dia berjanji:

"Siapapun yang bisa menemukannya untukku akan kuberi hadiah. Jika dia seorang wanita, akan kujadikan saudara perempuanku, dan jika dia seorang pria, aku akan menikah dengannya."

Tiba-tiba Tumang, si dewa berupa anjing datang entah dari mana membawakan gulungan benang itu untuknya. Dayang Sumbi tidak ingkar pada janjinya dan tetap akan menikahinya, meski Tumang adalah seekor anjing.

"Baiklah, anjing kecil. Akan kutepati janjiku. Karena kamu laki-laki, aku akan menikahimu ..."

Tentu saja hal ini menghebohkan istana. Raja sangat malu dengan tindakan putrinya dan mengasingkannya ke hutan. Merasa kasihan, raja membangun gubuk sederhana untuknya bersama Tumang. Tak lama Dayang Sumbi tahu bahwa Tumang adalah seorang dewa, yang saat bulan purnama, dapat berubah ke bentuk aslinya sebagai dewa yang tampan. Dayang Sumbi merasa sangat bahagia, dan juga merasa dapat mimpi aneh bahwa sebulan sekali, seorang pria tampan akan berada didekatnya. Karena mereka berdua saling mencintai, tak lama Dayang Sumbi hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki, yang dinamakannya Sangkuriang.

Sangkuriang tumbuh menjadi anak yang sehat. Saat berusia 10 tahun, ibunya meminta untuk dicarikan hati rusa. Sangkuriang pun segera pergi berburu, ditemani Tumang, yang mana dia masih juga belum tahu bahwa anjing itu sebenarnya adalah ayahnya. Hari itu, nampaknya tidak ada rusa di hutan. Namun tiba-tiba Sangkuriang melihat babi hutan, yang sebenarnya adalah Celeng Wayungyang. Dia mengejarnya dan mencoba memanahnya, tapi babi hutan itu berhasil melarikan diri. Maka Sangkuriang memerintahkan Tumang untuk mengejarnya.

"Tumang! Ayo kejar babi hutan itu! Tangkap dia!" perintah Sangkuriang.

Beberapa kali Sangkuriang berteriak pada Tumang, tetapi anjing itu tetap tidak bergerak sama sekali untuk mengejarnya. Tumang tahu bahwa babi itu sebenarnya adalah nenek Sangkuriang sendiri. Ini membuat Sangkuriang marah.

"Hei, Tumang! Ada apa denganmu?! Kenapa kamu tidak mematuhi perintahku?"

Sangkuriang marah padanya, mengancam dengan panah, yang tak sengaja terlepas dari busurnya dan menewaskan Tumang. Sangkuriang jadi semakin bingung. Sekarang dia harus pulang dengan tangan kosong. Akhirnya, ia memotong Tumang dan mengambil hatinya untuk dibawa pulang. Ia berikan hati itu pada ibunya untuk dimasak. Usai makan, Dayang Sumbi mencari Tumang untuk diberi hati yang tadi telah dimasak.

"Tumang di mana? Bukankah kamu pergi berburu dengannya?" tanya Dayang Sumbi.

Merasa bersalah karena telah membunuh, Sangkuriang mengatakan yang sebenarnya dan menerangkan bahwa hati yang mereka makan tadi adalah hati Tumang.

"Maaf, ibu. Aku tidak sengaja membunuhnya. Ini karena Tumang tidak menuruti perintahku. Hati yang kita makan tadi adalah hati Tumang ..."

Dayang Sumbi sangat marah! Dia sangat marah karena Sangkuriang telah membunuh suaminya! Ayah Sangkuriang sendiri!

"Apa katamu? Kamu membunuhnya?! KAMU MEMBUNUHNYA??!! YA TUHAN!!! ..."

Saking marahnya, Dayang Sumbi memukul kepala Sangkuriang dengan centong nasi hingga berdarah. Sangkuriang belum pernah melihat ibunya marah seperti itu. Begitu takutnya ia hingga ia berlari pergi ke hutan. Berpikir bahwa ibunya sangat membencinya karena membunuh Tumang, Sangkuriang putuskan untuk tidak kembali ke rumah dan mencoba hidup sendiri di hutan. Saat sudah tenang, Dayang Sumbi menyesal dan merasa kehilangan Sangkuriang yang lari ke hutan. Iapun memohon kepada para dewa untuk menyatukannya kembali dengan Sangkuriang putranya. Dayang Sumbi bersumpah untuk tidak makan daging dan menjadi vegetarian yang hanya makan sayur lalapan dan nasi.

Di hutan belantara, Sangkuriang pingsan tak sadarkan diri karena pendarahan di kepalanya. Lama ia tak sadar, hingga saat terbangun, dia menyadari berada di dalam gua. Seorang kakek yang belum pernah ia lihat sebelumnya duduk di sebelahnya.

"Kakek ini siapa? Saya ini ada dimana?" tanya Sangkuriang.

"Tenang, anak muda. Tadi kakek temukan kamu pingsan dan terluka parah di hutan. Kamu sekarang berada di gua tempat kakek biasa bertapa," jawab kakek itu.

Kemudian kakek itu mulai bertanya tentang asal usul Sangkuriang. Namun, Sangkuriang tak dapat mengingat satu hal apapun. Dia bahkan lupa namanya sendiri. Sangkuriang nampaknya kehilangan ingatannya akibat kepalanya yang terluka. Kakek itu merawat Sangkuriang hingga lukanya sembuh dan mengajarinya seni bela diri Pencak Silat serta kekuatan gaib. Beberapa tahun kemudian, Sangkuriang tumbuh menjadi lelaki perkasa, yang bahkan bisa memanggil roh-roh dan jin.

Sangkuriang menggunakan keahlian bersilatnya untuk membantu penduduk desa memerangi kejahatan. Hidupnya yang bebas mentakdirkannya bertemu wanita cantik di satu pondok kecil dalam perjalanan pulang. Mereka bicara tentang banyak hal dan menghabiskan waktu bersama hingga keduanya jatuh cinta dan berencana untuk menikah. Tak terpikiran oleh Sangkuriang bahwa pondok itu adalah rumah masa kecilnya dan wanita itu adalah ibunya sendiri.

Hingga suatu hari, ketika Dayang Sumbi menyikat rambut Sangkuriang, dia melihat bekas luka di kepalanya. Dayang Sumbi bertanya kepadanya tentang bekas luka:

"Apa yang terjadi dengan kepalamu?" tanya Dayang Sumbi.

"Yah ... aku tidak tahu ... aku tidak ingat ..." jawab Sangkuriang.

Dia hanya bisa memberi tahu Dayang Sumbi bahwa seorang lelaki tua menemukannya tak sadarkan diri dan terluka parah di tengah hutan bertahun-tahun lalu. Mendengar itu, Dayang Sumbi merasa cukup yakin bahwa lelaki itu sebenarnya adalah putranya sendiri, Sangkuriang! Semua potongan itu jatuh bersama dan dia tiba-tiba menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada putranya sendiri yang telah pergi bertahun-tahun lamanya. Ngeri, dia tahu bahwa dia tidak bisa menikahi putranya sendiri. Lalu dia mengatakan kepadanya seluruh kebenaran dan meminta untuk membatalkan pernikahan. Tapi, Sangkuriang tidak percaya padanya dan bersikeras untuk tetap menikahinya.

Melihat sikap putranya, Dayang Sumbi semakin bingung. Dia berpikir caranya untuk membatalkan pernikahan. Setelah berpikir keras, dia akhirnya menemukan jalan. Dayang Sumbi akan meminta Sangkuriang untuk melakukan beberapa tugas mustahil sebagai syarat pernikahan.

"Jika kamu bersikeras menikahiku, kamu harus memenuhi dua syarat," kata Dayang Sumbi.

"Apa itu, Dayang Sumbi? Katakan padaku!" desak Sangkuriang.

"Pertama, kamu harus membangun danau yang luas dengan mengisi seluruh lembah dengan air."

"Baik! Dan apa yang lainnya?"

"Kedua, kamu harus membangun kapal yang sangat besar. Tapi, danau dan kapal itu harus diselesaikan hanya dalam satu malam!" kata Dayang Sumbi.

"Baiklah, Dayang Sumbi! Aku akan lakukan apa pun yang kamu pinta," Sangkuriang menjawab dengan percaya diri.

Sangkuriang menerima tantangan itu. Dengan kekuatan cinta dan kekuatan gaibnya, Sangkuriang mulai memanggil dan memobilisasi semua roh surgawi untuk membantunya menyelesaikan tugas itu. Mereka menggali tanah dan mengatur batu-batu besar untuk membendung aliran sungai Citarum hingga membentuk satu danau. Air sungai naik dan memenuhi dataran, mengubahnya menjadi danau. Kemudian mereka menebangi pohon-pohon besar dan untuk membangun kapal yang sangat besar. Hanya beberapa menit lewat tengah malam, Dayang Sumbi diam-diam memata-matai pekerjaan Sangkuriang dan pasukannya untuk melihat kemajuan. Betapa terkejutnya dia ketika dia melihat mereka hampir menyelesaikan semua tugas! Dayang Sumbi menjadi kesal.

Dia segera berlari ke desa terdekat untuk meminta bantuan dari penduduk desa untuk meletakkan kain sutra merah di arah timur tempat Sangkuriang dan pasukannya bekerja. Tak lama setelah kain sutra yang ditenun oleh Dayang Sumbi dipasang, ada cahaya kemerahan di timur sehingga seolah-olah hari sudah pagi. Ayam mulai berkokok. Pasukan roh surgawi Sangkuriang melihat langit yang terang dan mendengar suara ayam berkokok, mengira hari sudah pagi. Mereka segera berlari, meninggalkan kapal yang hampir selesai dibuat.

Merasa tertipu, Sangkuriang menjadi marah. Dengan segala kekuatannya, dia menghancurkan bendungan yang baru saja dibangunnya hingga terjadi banjir besar. Kemudian dia menendang perahu yang hampir selesai tadi sampai terbang dan jatuh tertelungkup. Konon, perahu itu kemudian menjelma menjadi gunung yang sekarang dikenal sebagai Gunung Tangkuban Perahu. Kayu yang tersisa dari bangunan kapal menjadi Gunung Burangrang. Sisa pohon-pohon besar menjadi Gunung Bukit Tunggul dan danau itu menjadi Danau Bandung. Sangkuriang menjadi frustrasi, tetapi dia menolak untuk menyerah pada Dayang Sumbi. Dalam keputusasaannya, dia memaksakan dirinya pada Dayang Sumbi.

Dayang Sumbi berhasil membebaskan diri dan lari darinya. Sangkuriang mengejarnya dan hampir berhasil menyusulnya di Gunung Putri ketika Dayang Sumbi memohon kepada para dewa untuk membantunya sekali lagi. Alhasil, ia berubah menjadi bunga Jaksi, dan Sangkuriang, yang gagal menemukannya, tiba di tempat yang disebut Ujung Berung dan menghilang ke alam gaib.

ARTIKEL TERKAIT

Program-Program LPIA
Sertifikasi LPIA
Akreditasi LPIA
Agenda LPIA
Pepatah Hari Ini
Lokasi LPIA
Hubungi LPIA